Catatan Sejarah 1 Mei, Tidak Cuma Hari Buruh Namun Juga Hari Pembebasan Papua Barat Jadi Bagian Indonesia

Pembebasan Irian Barat via koran sulindo
Sumber.com - 1 Mei sering mudah diingat sebagai sebuah gerakan buruh yang kesetaraan dan keadilan di era revolusi industri mulai dari upah, jam kerja hingga hak-hak mereka sebagai buruh. Sejak 1886, 1 Mei pun diperingati sebagai hari buruh internasional dan juga diadopsi Indonesia sebagai salah satu hari libur nasional pada tahun 2013. Adanya syarat jam kerja yang hanya 8 jam saja bagi buruh adalah buah perjuangan mereka memperjuangkan hak-hak ini.
Sebelumnya di era orde baru, hari buruh sering ditiadakan untuk diperingati karena dibalik hari buruh sering disematkan isu pro komunis yang membawa kelas-kelas buruh sebagai ancaman untuk menteror pemerintahan. Setiap 1 Mei pula para buruh di Indonesia selalu turun ke jalan dan bergabung dengan penatnya ibukota dan kota-kota besar lainnya untuk memprotes perjuangan mereka.
Para buruh biasanya akan memberikan orasi berupa tuntutan soal peningkatan kesejahteraan sosial, termasuk penghapusan sistem outsourcing serta kenaikan upah mereka. Penetapan UMR yang menjadi kesepakatan antara pemerintah pusat, daerah dan para pengusaha selalu menjadi isu di hari buruh.
Namun selain diperingati sebagai hari buruh, ternyata 1 Mei pun memiliki arti penting dalam elemen bangsa Indonesia. Pada 1 Mei 1963, Papua Barat melalui perjuangan diplomasi dan militer akhirnya berhasil kembali ke pangkuan ibu pertiwi setelah sejak pengakuan kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak disertakan menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Catatan sejarah 1 Mei 1963 - Hari Pembebasan Irian Barat
Pembebasan Irian Barat merupakan salah isu kedaulatan terbesar pada awal masa kemerdekaan Republik Indonesia. Konflik ini muncul ketika Belanda tidak bersedia untuk menyerahkan Irian Barat ke dalam bagian NKRI, dan memilih untuk menjadikan wilayah itu sebagai negara boneka.
Pembebasan Irian Barat merupakan sebuah tuntutan nasional yang didukung oleh semua partai politik dan semua golongan. Tuntutan itu didasarkan atas pembukaan UUD 45; “Untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”.
Soekarno pun makin garang melawan Belanda ketika hasil diplomasi ke diplomasi tidak kunjung membawa keputusan akhir. Hingga pada tanggal 19 Desember 1961, pemerintah mengeluarkan Tri Komando Rakyat (Trikora) yang berisi:
- Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda
- Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat, tanah air Indonesia
- Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.
Dimulailah persiapan untuk merebut kembali Papua Barat dengan menyiapkan armada militer hingga pengerahan dukungan dari negara-negara sekutu. Indonesia yang mengacu ke blok Uni Soviet mendapatkan dukungan pengadaan senjata hingga beberapa negara yang dikunjungi Jenderal Nasution seperti India, Pakistan, Australia, Jerman, Prancis, Inggris dll untuk mendengar sikap negara-negara itu.
Perlu 1 tahun kemudian hingga 15 Agustus 1962 muncul Perjanjian New York. Perjanjian New York dibuat berdasarkan prinsip-prinsip yang diusulkan oleh Delegasi Amerika Serikat, Ellsworth Bunker, yang oleh Sekretaris Jenderal PBB diminta untuk menjadi penengah. Setelah sebelumnya terjadi tragedi tewasnya Komodor Yos Sudarso yang ditembak pesawat-pesawat Belanda di Laut Aru.
Persoalan terpenting dari perjanjian ini adalah mengenai penyerahan pemerintahan di Irian Barat dari pihak Kerajaan Belanda kepada PBB. Untuk kepentingan tersebut maka dibentuklah United Nation Temporary Excecutive Authority (UNTEA) yang pada waktunya akan menyerahkan Irian Barat ke Indonesia sebelum tanggal 1 Mei 1963.
Pada 1 Mei 1963 Otoritas Pemerintahan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam diri UNTEA menyerahkan Irian Barat kepada pemerintah Indonesia sesuai amanat Perjanjian New York. Upacara penyerahan berlangsung di di Kota Baru, Papua Barat. Pemerintah Indonesia diwakili Sudjarwo Tjondronegoro. Sekretaris Jenderal PBB U Than mengirimkan utusannya, CV Nawasimhan.
Penyerahan ini membuat Belanda pun angkat kaki dari Papua Barat dan menjadikan Indonesia menjadi bagian utuh dari Sabang sampai Merauke tidak terpecah oleh 1 bagian wilayah negara tertentu. Sebuah catatan bahwa, sejarah 1 Mei tidak hanya hari buruh saja namun juga ada nama Papua Barat sebagai bagian dari Indonesia.
Sumber : Historia.id ; wawasansejarah.com
