Airlangga VS Bamsoet, Adu Kuat Dua Pemain Cadangan Novanto

Airlangga VS Bamsoet, Adu Kuat Dua Pemain Cadangan Novanto

Bamsoet dan Airlangga Hartanto

Airlangga dan Bamsoet Via Indopolitika

 

Sumber.com - Sepeninggal Setya Novanto, Partai Golkar kini dikomandoi oleh Airlangga Hartarto sebagai Plt Ketum. Posisi Airlangga sebagai Ketum Golkar kemudian digoyang oleh kehadiran Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo (Bamsoet). Diketahui, Bamsoet juga merupakan pemain cadangan yang menggantikan posisi Novanto di DPR 1.

 

Bamsoet yang kini menjabat sebagai Ketua DPR mengklaim telah mendapat dukungan dari sejumlah DPD Golkar tingkat I dan organisasi sayap partai. Sementara Airlangga secara mengejutkan memboyong 34 Ketua DPD Golkar menghadap Presiden Joko Widodo. Semula, Bamsoet cenderung malu-malu untuk maju, namun belakangan dia lebih berani.

 

Bamsoet pun punya modal berharga. Paska Pemilu 2019, suara Golkar mengalami penurunan. Jika Pileg 2014 suara Golkar sebesar 18,4 juta suara (14,75 persen) turun 2,44 persen pada pileg 2019 menjadi 17,2 juta suara (12,31 persen) dan urutan Golkar dari nomor dua menjadi nomor tiga.

 

Selain itu, Airlangga juga rangkap jabatan karena saat ini merupakan Menteri Perindustrian, sehingga disebut-sebut tidak bisa fokus untuk mendongkrak elektabilitas Partai Beringin. Namun, Airlangga punya alasan untuk mempertahankan jabatannya di Golkar. Setidaknya dia masih mendapatkan dukungan. 

 

Salah satunya berasal dari Ketua DPP Partai Golkar Sabil Rachman. Sabil bahkan mengklaim, Presiden Joko Widodo nyaman dengan kepemimpinan Airlangga Hartarto di Golkar. Usai pertemuan jajaran pengurus Golkar dengan Presiden di Istana Bogor, Senin (1/7) kemarin, Sabil yakin kalau Jokowi akan mendukung Menteri Perindustrian tersebut untuk kembali memimpin Golkar sampai 2024. 



Sabil merujuk pada pertemuan pengurus Golkar dengan Presiden yang sarat bahasa simbolik. Sabil mengartikan, itu berarti kepemimpinan Airlangga di Golkar menunjukkan partai beringin memiliki andil langsung dan moral obligasi serta kontribusi politik nyata atas kemenangan Jokowi.

 

Bahkan, Sabil mengklaim kalau Presiden Jokowi menegaskan dirinya memiliki irisan sangat kuat dengan Golkar dibanding partai lain selain dengan PDI Perjuangan. Di sisi lain, rencana Musyawarah Nasional Golkar tetap akan diselenggarakan Desember 2019. Sabil juga memuji kedewasaan Airlangga dalam menjelaskan situasi yang berkembang saat Munas berlangsung. 



"Ketua Umum Golkar, saya kira selain lebih memilih untuk menunggu momentum yang tepat juga hendak menunjukkan kematangan dan kesabaran menjawab persoalan serta isu," ujar Sabil. 

 

Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Ari Nurcahyo menilai Airlangga dan Bamsoet memiliki modal sosial dan politik yang cukup untuk bersaing menjadi Ketum Golkar. Peluang itu semakin bertambah mengingat Golkar bukan merupakan parati yang bergantung pada satu tokoh. 

 

Meski demikian Bamsoet lebih memiliki peluang yang lebih besar dari Airlangga dalam segi jaringan. Ari mencontohkan, Bamsoet memiliki jaringan di sejumlah organisasi seperti FKPPI, PP, hingga HMI.



Tak hanya itu hubungan yang kurang baik antara Airlangga dan senior Golkar ketika Pemilu 2019 juga menjadi faktor yang menguntungkan Bamsoet. Menurut Ari, sejumlah senior Golkar sempat kecewa dengan Airlangga yang gagal memberikan dukungan 100 persen bagi Jokowi-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.




"Nah makanya konsilidasi Airlangga lewat DPD-DPD dan Bamsoet lewat sesepuh Golkar," ujarnya.

 

Airlangga dan Bamsoet adalah dua pemain cadangan yang menggantikan posisi Novanto yang harus melepaskan jabatannya karena korupsi. Airlangga mengisi kekosongan kursi Ketum Golkar sedangkan Bamsoet di DPR. Keduanya kini bertarung untuk menduduki posisi nomor 1 di Golkar.

 

Keduanya beradu kekuatan, siapa jadi pemenang?