Awas, Membenci Pekerjaan Kamu Bisa Berdampak Buruk Bagi kesehatan Lho!

Awas, Membenci Pekerjaan Kamu Bisa Berdampak Buruk Bagi kesehatan Lho!

Tanda tanda utama masalah penanganan amarah

Foto : Hello Sehat

 

Sumber.com - Namanya bekerja, setiap orang pasti pernah merasakan jenuh, kesal dan bahkan membenci pada rutinitas yang dilakukan setiap hari. Apalagi jika pekerjaan tersebut terasa makin hari makin bertambah. Ujung-ujungnya, pekerja bisa stres, namun waspadalah, membenci pekerjaan kamu ternyata bisa berdampak buruk untuk kesehatan. 

 

Jika belakangan kamu gampang mengalami sakit, bisa jadi itu karena ada yang tak beres dengan pekerjaan kamu. 

 

Berikut adalah beberapa contoh gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi pekerjaan kamu.

 

1.Sering Sakit Kepala

Otot akan menegang untuk menjaga tubuh dari cedera. Menurut American Psychological Association, ketika Anda melihat tempat kerja sebagai “zona berbahaya”, itu membuat otot tubuh tegang. Ketegangan kronis di leher, bahu, dan kepala bisa dikaitkan dengan migren dan sakit kepala tipe tegang.

 

“Stres menciptakan gejala fisiologis, dan itu bermanifestasi sebagai rasa sakit,” kata psikolog klinis asal Amerika Serikat, Monique Reynolds, dari Center for Anxiety and Behavior Change seperti dikutip di Huffington Post.

Hal ini juga dibenarkan oleh dr. Fiona Amelia, MPH. Dikatakannya, sakit kepala yang utamanya dipicu oleh stres adalah sakit kepala tipe tegang (tension-type headache). Pemicu lainnya adalah kurang istirahat, postur tubuh yang buruk, kecemasan, kelelahan, lapar, dan kadar zat besi yang rendah.

Ciri khas dari sakit kepala tipe tegang adalah sakit kepala yang terasa seperti ditekan atau diikat.

“Sering terjadi pada orang dewasa, biasanya nyeri dirasakan di belakang kepala, serta dapat menjalar ke leher dan bahu. Para pakar berpendapat bahwa emosi yang memuncak, tekanan, atau stres memicu kontraksi otot-otot wajah, leher, dan kulit kepala yang sebelumnya menjadi lebih sensitif terhadap rangsang nyeri,” jelas dr. Fiona.


Ciri lain sakit kepala tipe tegang yakni nyeri kerap muncul pada siang atau sore hari setelah beraktivitas, tidak membaik setelah istirahat, dan bikin sulit fokus. Sakit kepala jenis ini juga bisa menyebabkan Anda lebih sensitif terhadap cahaya atau suara, meski demikian kasus ini jarang terjadi.

 

2.Susah Tidur

Banyak orang yang melaporkan tak bisa tidur karena pikiran yang masih berpacu atau tak bisa terus tertidur. Mereka terbangun tengah malam memikirkan tentang hal-hal apa saja yang harus dilakukan di kantor.

Sulit tidur selama beberapa malam memang bukan masalah besar. Namun, jika ini menjadi sebuah pola, ini mungkin pertanda bahwa stres pekerjaan mulai “meracuni” tubuh. Kurangnya waktu tidur dan rendahnya kualitas tidur telah lama dikaitkan dengan berbagai gangguan fisik, mental, dan emosional. Dalam jangka pendek, kurang tidur dapat meningkatkan emosi negatif seperti ansietas, kegelisahan, dan rasa sedih. Selain itu, hal ini juga bisa menurunkan berbagai emosi positif seperti kebahagiaan, antusiasme, dan rasa gembira.

 

3.Gampang Sakit

Menurut penelitian yang dipublikasikan di “The Malaysian Journal of Medical Sciences” tahun 2008, stres kronis dapat membahayakan sistem kekebalan tubuh, membuat Anda jadi lebih rentan terhadap penyakit. Nah, kalau kamu belakangan jadi gampang sakit, coba lihat deh, siapa tahu hal itu terjadi karena kamu stres karena pekerjaan.

 

4.Gampang Lelah

Ini merupakan kelelahan yang tak bisa diobati dengan tidur siang atau istirahat pada akhir pekan. Rasa lelah yang berlebih, misalnya pada pekerja yang sudah mengalami stres berat atau depresi, bisa jadi disebabkan oleh perasaan sedih, putus asa, dan tidak berdaya. Nyeri emosional yang kronis memang bisa "menyedot" energi Anda. Anda menjadi cepat lelah.

 

Bahkan, untuk bangun dari tempat tidur saja rasanya seperti tak punya tenaga.

 

5.Nafsu Makan Yang Tak Menentu

Nafsu makan berhubungan dengan otak. Dilansir dari laman Harvard Health Publising, di bawah tekanan akut, respons fight-or-flight melepaskan adrenalin, memberi tahu tubuh untuk menekan pencernaan agar fokus pada “penyelamatan diri” dari bahaya yang dirasakan.

Di bawah tekanan jangka panjang, kelenjar adrenalin akan melepaskan dan membangun kortisol, hormon yang bisa meningkatkan rasa lapar. Tak hanya itu, laporan dari Harvard juga menyebut bahwa makanan manis bisa menumpulkan respons emosi yang berkaitan dengan stres. Itulah kenapa meski banyak yang menganggapnya sebagai comfort food (termasuk juga makanan yang tinggi lemak), tapi kebiasaan makanan manis tergolong tak sehat dan harus dihindari.

Waspadai juga emotional eating—konsumsi makanan kesukaan dalam jumlah banyak saat menghadapi situasi sulit. Dikatakan oleh dr. Nitish Basant Adnani, BMedSc, MSc, kondisi tertekan bisa menyebabkan pelepasan beberapa hormon stres dalam tubuh.

“Dalam jangka pendek, stres dapat menurunkan nafsu makan akibat pelepasan hormon epinefrin oleh kelenjar adrenal tubuh. Namun, bila terus berlangsung, stres menyebabkan pelepasan hormon kortisol,” jelasnya.

 

Nah, apabila kamu sering merasakan gejala-gejala di atas, coba cek lagi. Bisa jadi semua itu terjadi karena kamu tidak menyukai pekerjaan kamu. Coba deh mulai berusaha untuk menikmati rutinitas pekerjaan, seberat apapun itu, sesulit apapun itu. Barangkali dengan menikmati pekerjaan akan membuat tubuh kamu menjadi lebih sehat.

 

*Dirangkum dari beberapa sumber