Kartini Dan Kontroversi Pemahaman Agama Yang Dangkal

Kartini Dan Kontroversi Pemahaman Agama Yang Dangkal

Lukisan Raden Ajeng Kartini

Foto: Pojoksatu

 

Sumber.com - Semua orang tahu, R.A Kartini telah diakui sebagai salah satu pahlawan nasional. Pada tanggal 21 April setiap tahunnya, masyarakat Indonesia memperingati hari Kartini sebagai penghargaan untuk mengenang jasa Kartini untuk bangsa. 

 

Namun dibalik jasa-jasa Kartini, ternyata ada pula kontroversi yang menghampiri. Salah satunya adalah dugaan bahwa Kartini memiliki pemahaman agama yang dangkal. Walaupun kakeknya (ayah ibunya, Kyai Haji Madirono, adalah seorang ulama dan guru agama, ternyata pemahamannya tentang agama Islam masih minim. 

 

Salah satu sebabnya, seperti diakui sendiri oleh Kartini dalam suratnya kepada nona Zeehandelaar, 6 Nopember 1899, adalah pemahamannya tentang Alquran yang sangat kurang karena tidak mengerti isinya.



"Lagi pula, sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam. Manakah boleh aku cinta akan agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh aku mengenalnya? Qur’an terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa mana jua pun. Di sini tiada orang yang tahu bahasa Arab. Orang diajar di sini membaca Qur’an, tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Piiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu, orang diajar di sini membaca, tetapi tidak diajarkan makna yang dibacanya itu. Sama saja engkau mengajar aku membaca kitab bahasa Inggris, aku harus hafal semuanya, sedangkan tiada sepatah kata jua pun yang kau terangkan artinya kepadaku. Sekalipun tiada jadi orang saleh,kan boleh juga orang jadi orang baik hati, bukan Stella?"

Di bagian lain dari surat itu Kartini menulis:


Ya, Tuhanku, ada kalanya aku berharap, alangkah baiknya jika tidak ada agama itu, karena agama itu, yang sebenarnya harus mempersatukan semua hamba Allah, sejak dari dahulu-dahulu menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, jadi sebab perkelahian berbunuh-bunuhan yang sangat ngeri dan bengisnya.

Keinginan Kartini yang luar biasa untuk bertemu dan berdiskusi dengan Snouck Hurgronje dan kekagumannya dengan sosok orientalis Belanda tersebut, maka tidak tertutup kemungkinan pemikiran Kartini sudah dipengaruhi secara luas oleh pemikiran Snouck yang sebetulnya sangat ingin menjauhkan Islam dari kehidupan orang pribumi. Seperti kebencian Kartini dengan poligami dan lembaga perkawinan, seperti disebutkan pada suratnya kepada nona Zeehandelaar.

Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut hukum Islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya aku mengatakan itu dosa. 

Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sesangat itu benar benciku akan perkawinan? Kerja yang serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas. Tetapi, tiada suatu jua pun boleh dikerjakan, karena menilik kedudukan Bapak.

 

Pramudya Ananta Toer, dalam bukunya ‘ Panggil aku Kartini saja – 1962 ‘ berusaha menggambarkan sosok seorang penganut sinkretisme Kejawen. Pram menulis, “ Bagi Kartini semua agama sama, sedangkan nilai manusia terletak pada amalnya kepada sesamanya yaitu masyarakat “


Tidak salah karena Kartini mengatakan dalam terjemahan Joost Cote diatas.

 

We say that we trust in God and that is what we will maintain. We want to serve God and not people. If we listen to people then we worship people and not God. (Kartini, 12 Oktober 1902 

Menurut Kartini, “ tolong menolong dan cinta mencintai , itulah nada dasar segala agama. Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun Islam “.

Agama kebatinan Kartini ini ada yang mengkaitkan dengan pengalaman masa kecilnya. Suatu waktu ia sakit keras, dokter yang dipanggilnya tidak bisa menyembuhkan. Lau datang seorang cina yang mencoba menyembuhkan. Ia meminta Kartini meminum abu dari lidi sesaji yang biasa dipakai di klenteng atau vihara. Setelah minum abu lidi tadi, Kartini memang sembuh.

 

Kartini merasa menjadi anak Buddha dan pantang makan daging.

Pencarian tentang Agama dari Kartini tak pernah berhenti. Ia merasa Islam tidak pernah memberi jawaban. Sejak lama ia buta terhadap Islam, agama yang secara tradisional dipeluknya.
Dalam suratnya ke Stella Zeehandelaar ( 18 Agustus 1900 ). Kartini merindukan tafsir Al Qur’an bisa dipelajari.

 

Ia mengecam tentang metode pengajaran al Qur’an, tapi tak ada seorangpun yang mengerti, karena memakai bahasa arab.

Surat lain Kartini kepada Ny. Van Kol , agustus 1901, menyebut derita neraka yang dialami kaum perempuan yang disebabkan ajaran Islam, yang disampaikan para guru guru agama. Ini berkaitan dengan pola poligami yang lazim dilakukan para pembesar, golongan priyayi. Agama Islam menjadi pembela egoisme lelaki, yang menempatkan perempuan dalam posisi yang tidak adil.



Derita Neraka yang digambarkan Kartini, ditulis ulang oleh Pram dalam pembukaan roman ‘ Gadis Pantai ‘ yang dicurigai sebagai simbol kisah penggalan hidup Kartini yang tragis. Roman ini menusuk feodalisme Jawa yang dianggap tak memiliki jiwa kemanusiaan.


Mengerikan Bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini. Seganas ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi… Ah aku tidak suka pada priyayi. Gedung gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan .