Kasus Surat Suara Tercoblos Di Malaysia Dianggap Sampah, BPN Tak Terima

Kasus Surat Suara Tercoblos Di Malaysia Dianggap Sampah, BPN Tak Terima

andre rosiade sebut parpol lain juga protes kepergian yahya staquf ke israel partai apa saja

Foto: Breakingnews

 

Sumber.com - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto tidak terima pernyataan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menyebut bahwa kasus surat suara yang sudah tercoblos di Malaysia dianggap sepele. Diketahui sebelumnya KPU menyebut bahwa kasus tersebut tidak perlu dibesar-besarkan karena dianggap sampah.

 

Juru Bicara BPN Andre Rosiade bereaksi dan mengatakan bahwa KPU dalam hal ini tidak perlu bersikap dengan menganggap kasus tersebut sampah. Andre pun meminta KPU mengusut kasus tersebut, bukan membiarkannya.

 

“KPU tidak bisa negomong gitu  aja dong. Harus diidentifikasi, ini kan persoalan serius. Masak udah gitu aja dijadiin sampah surat suaranya!” tegas Andre di Jakarta pada Minggu (14/4).

 

Andre menegaskan bahwa KPU harus menemukan pelakunya yang merupakan mafia suara dan harus segera ditindak tegas.

 

“Ini mafia suara, pelakunya harus ditindak tegas. KPU harus identifikasi,” ujarnya.

 

Sebelumnya, Komisioner KPU RI Ilham Saputra menyatakan surat suara yang diduga tercoblos di Selangor, Malaysia, sudah dianggap sebagai sampah. Alasannya, belum bisa dipastikan keasliannya mengingat KPU tidak diberikan akses oleh polisi setempat untuk memeriksa temuan surat suara itu.

 

"Kami tidak menghitung yang (surat suara) ditemukan itu, dianggap sampah saja," kata Ilham Saputra ditemui di kantor KPU RI di Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (14/4).



Ilham  mengakui, hingga kini KPU tak mendapatkan akses dari Polisi Diraja Malaysia (PDRM) untuk mengecek langsung surat suara yang tercoblos itu. Alasan itulah yang membuat KPU memutuskan untuk tidak menghitung surat suara tercoblos di Malaysia



Tidak dihitungnya surat suara yang diduga tercoblos itu, lanjut dia, tidak akan mempengaruhi ketersediaan surat suara khususnya untuk metode pemungutan lewat pos.

 

"Jadi jangan digeneralisasi terjadi di Malaysia, ini hanya terjadi di Kuala Lumpur, itu harus dipahami. Jadi yang pos sudah ada," katanya.