Menengok Kembali Ramalan Rizal Ramli Untuk Garuda Indonesia, Terbukti?

Menengok Kembali Ramalan Rizal Ramli Untuk Garuda Indonesia, Terbukti?

pesawat garuda indonesia 20180402 132659

Foto: Tribunnews

 

Sumber.com - PT Garuda Persero Tbk tanpa diduga berhasil mencatatkan kinerja cemerlang pada 2018. Bukan ruginya lagi yang menurun, tapi perusahaan mencetak laba bersih US$809,84 ribu atau Rp11,33 miliar (Rp14.000 per dolar Amerika Serikat). Namun, berita itu rupanya tak disambut baik oleh seluruh pihak. Dua komisaris Garuda Indonesia, Chairul Tanjung dan Dony Oskaria menolak menandatangani laporan buku tahunan Garuda 2018.



Keduanya merupakan perwakilan dari PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd selaku pemilik dan pemegang 28,08 persen saham Garuda Indonesia. Mereka tak sepakat dengan salah satu transaksi kerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi yang dibukukan sebagai pendapatan oleh manajemen.

Dalam surat yang didapatkan oleh awak media ketika Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) berlangsung pada Rabu (24/4) tertulis bahwa Mahata bekerja sama secara langsung dengan PT Citilink Indonesia.

Melalui kesepakatan itu, keuntungan yang diraih Grup Garuda Indonesia sebesar US$239.940.000, dengan US$28.000.000 di antaranya merupakan bagi hasil Garuda Indonesia dengan PT Sriwijaya Air.

Hanya saja, perusahaan sebenarnya belum mendapatkan bayaran dari Mahata atas kerja sama yang dilakukan. Namun manajemen tetap menuliskannya sebagai pendapatan, sehingga secara akuntansi Garuda Indonesia menorehkan laba bersih dari sebelumnya yang rugi sebesar US$216,58 juta.

Kejanggalan yang diungkapkan kedua komisaris lewat sepucuk surat ini nyatanya tak mengubah sikap manajemen. Bahkan, dalam RUPST laporan keuangan Garuda Indonesia tahun lalu diterima oleh mayoritas pemegang saham.

 

Dengan kata lain jika tidak mengacu pada laporan keuangan, mestinya Garuda tengah mengalami kerugian. 

 

Ekonom Senior Rizal Ramli buka suara terkait dugaan manipulasi data tersebut. Kritik RR sendiri disampaikan melalui akun Twitter @RamliRizal. Dalam cuitannya itu, awalnya RR mengaku memberikan ucapan selamat kepada Garuda lantaran laporan keuangannya menunjukkan untung.

 

Namun belakangan RR meralatnya. 

 

"Tadinya saya sudah kasih Selamat Garuda sudah untung. Ternyata hanya sekedar manipulasi akunting. Maaf ucapan Selamat kami tarik kembali" tulisnya dalam akun twitter Dr. Rizal Ramli. 

 

Sesungguhnya persoalan yang hinggap di maskapai plat merah itu sudah lama diendus RR. RR mengklaim bahwa salah satu ramalan bahwa Garuda akan kesulitan untuk berkembang karena adanya penempatan manajemen yang tidak sesuai dengan kompetensi. Rizal bercerita, pada awal Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, dirinya telah mengingatkan kerugian menahun yang dialami Garuda Indonesia.

 

Kerugian ini dituding akibat jajaran direksi tidak berani mengambil keputusan strategis.

 

"Jadi akibat naruh orang tidak pada tempatnya, karena pemilihan direksi asal, perusahaan hebat ini bisa bisa kesulitan keuangan. Kemarin baru minjem lagi buat tutup utang masa lalu. Kalau tidak diperbaikin bisa rugi dijual ke asing," kata RR dilansir Merdeka 26 Juni 2018 silam. 

 

RR mengatakan bahwa susunan direksi Garuda terlalu gemuk dan sarat kepentingan politik. Akibatnya solusi yang diambil adalah jalan keluar untuk jangka pendek, bukan untuk menyembuhkan akar permasalahan. RR juga sempat menyinggung soal adanya kepentingan dalam pembelian pesawat yang ugal-ugalan, kemudian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan adanya dugaan mark up anggaran. 

 

RR sempat menyarankan kepada Jokowi agar pembelian pesawat jenis jarak jauh dievaluasi karena akan mengakibatkan kerugian.

 

Rizal pun kemudian bercerita pernah menyelamatkan Garuda dari kebangkrutan di tahun 2000. Saat itu, Garuda terlilit utang US$ 1,8 miliar. Jika tidak dibayar, konsorsium bank Eropa yang memberi pinjaman akan menarik pesawat-pesawat Garuda. Pemerintah, lanjut dia, kemudian mengancam konsorsium bank ke pengadilan. Lantaran, pesawat yang dibeli Garuda kala itu hasil penggelembungan.

 

Setelah ancaman tersebut, konsorsium bank meminta damai. Dia bilang, kondisi Garuda sebenarnya tidak masalah jika pembelian pesawatnya tidak di mark up.

 

Sebelumnya, PT Garuda Indonesia Tbk menjadi perbincangan publik akibat polemik laporan keuangan. Pada laporan keuangan 2018, Garuda Indonesia secara mengejutkan mencatatkan laba bersih. Padahal di kuartal III-2018 BUMN ini masih menderita kerugian yang cukup besar.



Polemik ini terus bergulir. Berbagai pihak berwenang mulai memberikan tanggapan seperti PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Mereka akan meminta keterangan mulai dari manajemen hingga Kantor Akuntan Publik (KAP) yang mengaudit laporan keuangan tersebut.

 

Apalagi laporan keuangan 2018 milik Garuda Indonesia mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).