Saat Arogansi PSI Dibalas PKS Dengan Sikap Kedewasaan Dalam Demokrasi

Ilustrasi Via Blogger
Sumber.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengklaim mereka tak akan pernah sudi untuk bergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tak tanggung-tanggung, PSI mengatakan bahwa adalah haram bagi partai besutan Grace Natalie itu untuk bersatu dengan PKS dalam kontestasi politik.
"Sebagai partai nasionalis ideologis, PSI tidak akan berkoalisi dengan PKS di seluruh pilkada gubernur, bupati, dan wali kota di seluruh Indonesia. Haram bagi PSI berkoalisi dengan PKS," ujar Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni dalam satu kesempatan.
Namun, sikap arogan PSI tersebut tak dibalas dengan sikap yang sama oleh para kader PKS. Di Serpong, Tangerang Selatan, kader PKS justru menyelamatkan suara PSI. Hal ini diungkap dalam sebuah tulisan yang viral di media sosial. Saksi dari PKS menyelamatkan suara PSI saat pleno rekapitulasi di tingkat Kecamatan Serpong Utara, Selasa (23/04/2019) malam.
Diungkapkan saat itu, Panitia Perhitungan Kecamatan (PPK) menyebutkan perolehan suara untuk PSI di TPS 41 Kelurahan Jelupang, Serpong Utara, Tangerang Selatan memperoleh suara nihil atau nol, padahal di form C1 PKS suara PSI di TPS tersebut mendapat 15 suara. Saat itu juga saksi PKS langsung interupsi.
"Maaf panitia berdasarkan form C1 milik PKS suara PSI memperoleh 15 suara, mohon dicocokkan dengan C1 Plano," sanggah Wawan Hendrik, saksi PKS yang bertugas mengawal suara di kelurahan tersebut.
Salah satu petugas PPK langsung membuka lembaran kertas Plano untuk mencocokkan, dan benar saja di lembar C1 Plano suara PSI memperoleh 15 suara sesuai data C1 milik PKS. Saksi dari PSI yang tidak membawa data C1 saat pleno PPK terlihat tersenyum sumringah dan langsung mengucapkan terima kasih kepada saksi PKS tersebut.
Pengamat Politik Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin merespon positif tindakan saksi PKS yang menyelamatkan suara PSI saat pleno rekapitulasi di tingkat Kecamatan Serpong Utara, Selasa (23/4/2019). Ujang mengatakan, PKS telah menunjukan kedewasaan dan keadaban dalam berdemokrasi.
Padahal, di berbagai kesempatan PSI sudah memposisikan dan menyatakan diri sebagai lawan politik PKS.
“Ini juga hal yang baik dalam berdemokrasi karena partai sejatinya harus menguatkan dan saling mendukung,” papar Ujang saat dihubungi, Kamis (25/4/2019).
Ujang juga mengapresiasi sikap para saksi PKS yang berani membuka kesalahan untuk memperbaiki perolehan suara PSI.
“Demokrasi sedianya harus berjalan bukan hanya secara prosedural, tetapi juga harus substansial. Jadi jika ada kesalahan perhitungan suara, ya harus dikoreksi,” tandas Ujang.
