Shazam: Petir Keberuntungan Yang Sangat Dibutuhkan Oleh DCEU

Apakah filmnya layak disaksikan? via Splice Today
Sumber.com - Bisa dikatakan sejak Wonder Woman (2017), kualitas film-film dunia sinematik DC kian mengalami peningkatan. Oke mungkin Justice League (2017) mendapatkan resepsi yang campur aduk. Tapi tak dipungkiri bahwa film kelompok superhero DC tersebut jauh lebih baik dari Batman V Superman: Dawn of Justice (2016).
Ketika Aquaman (2018) dirilis akhir tahun lalu, si manusia ikan yang kerap diolok-olok ini, sukses memberikan tendangan gol besar terhadap dunia sinematik yang masih dianggap sangat mengecewakan ini. DCEU (atau sekarang Worlds of DC) pun perlahan kembali bangkit dari keterpurukannya.
Dan akhirnya ketika Shazam! dirilis beberapa minggu lalu, film arahan David F. Sandberg (Lights Out) ini kian meneruskan rekor kesuksesan tersebut. Yap benar banget Kawan Sumber. Shazam! bisa dikatakan adalah film terbaik DCEU semenjak Man of Steel (2013). Bahkan Aquaman yang dianggap keren, masih kalah kerennya dari film yang dibintangi oleh Asher Angel (Andi Mack) dan Zachary Levi (Chuck) sebagai si pahlawan supernya ini
Baca juga: Cross-Over The Walking Dead & Fear the Walking Dead Akan Semakin Luas Ke Depannya

Shazam & Freddie Freeman via YouTube / Warner Bros Pictures
Sebelum menggali segudang aspek lain yang membuat film ini sekeren seperti yang dikatakan, mari kita bahas dulu aspek yang paling utamanya yaitu naskah filmnya. Jujur sejujur-jujurnya apabila bukan karena naskah simpel tapi tetap terasa keren binti excited yang ditulis oleh Henry Gayden (Earth to Echo), Shazam! mungkin akan menjadi film yang sama mengecewakannya seperti Dawn of Justice dulu.
Susunan naratif naskahnya benar-benar simpel dan asyik diikuti layaknya seperti susunan naratif naskah rival, MCU. Atau dengan kata lain, Shazam! adalah film DC rasa Marvel. Dan sekali lagi tak dipungkiri bahwa memang aspek naskah yang seperti inilah yang ke depannya harus terus dipertahankan agar universe ini juga bisa terus bertahan.
Selain aspek tersebut, aspek lain yang tidak kalah penting adalah pengarahan tone yang dilakukan Sandberg secara jenius. Sandberg sadar banget kalau Shazam! memiliki tone yang lebih ringan dari superhero DC lainnya. Oleh karenanya, iapun benar-benar mengedepankan tone komedi dari awal hingga akhir.
Namun di saat yang sama, dikarenakan latar belakangnya yang action dan horor, Sandberg pun memasukkan dua tone genre ini ke dalamnya. Dan kerennya walau ia mencampur adukkan genre-nya ini, tone komedik yang menjadi inti dari film ini tidaklah hilang sama sekali.

Waduh minum bir! via Forbes
Kesemua aspek diatas, diperkuat lagi dengan penampilan aktor-aktornya yang benar-benar “merasuki” karakternya. Angel sebagai Billy Batson dan Levi sebagai Shazam benar-benar karismatik dan adorable. Terutama Levi yang keren banget dalam menghidupkan kepribadian Billy yang “terperangkap” di dalam tubuh besar Shazam.
Levi bagaikan Ryan Reynolds dengan Deadpool-nya atau lebih jauhnya, Robert Downey Jr. dengan Iron Man-nya. Walau Angel dan Levi keren, entah mengapa menurut kami, adalah justru pemeran Freddy Freeman, Jack Dylan Grazer yang mencuri perhatian.
Pemeran Eddie Kaspbrak di It: Chapter One (2017) ini seakan tahu banget bahwa di film ini, ia memerankan “sidekick” dari Billy. Dengan kemawasannya ini, ia dengan Gayden pun bekerjasama untuk memastikan bahwa ia bukanlah sekedar sidekick yang “datar” saja. Dan yap. Hasil kerjasama keduanya benar-benar sukses besar. Freddy menjadi sosok yang paling vital tidak hanya bagi Billy namun juga keseluruhan dari film ini.
Lalu bagaimana dengan si villain, Doctor Thaddeus Sivana yang diperankan oleh Mark Strong (Green Lantern)? Well, di tengah-tengah Kawan Sumber. Alias tidak terlalu keren namun tidak terlalu jelek juga. Dan bukan performa Strong disini masalahnya. Adalah pemberian outcome-nya sebagai sosok villain yang sangat jatuh.
Maksudnya disini, penceritaaan kisah asal-usul Sivana sangatlah keren, emosional dan sangat relatable. Kamipun juga menjadi sedikit mendukung dirinya ketika ia memutuskan menjadi villain (baca: motifnya sangat masuk akal).
Namun setelah akhirnya menjalankan motifnya tersebut, semuanya menjadi terlihat dan terasa melempem dan satu dimensional. Tapi ya setidaknya Sivana adalah karakter yang jauh lebih keren bagi Strong daripada karakter Sinestro aka Yellow Lantern yang diperankannya di Green Lantern (2011) dulu.

Marvel Family? via Time Magazine
Oh hampir ketinggalan. Pertarungan final antara Shazam dan Sivana bisa dikatakan adalah pertarungan terbaik di DCEU setelah Superman (Henry Cavill) dan Zod (Michael Shannon) di Man of Steel (2013) dulu. Memang tidak se-“rusuh” Superman dan Zod, tapi sekali lagi pertarungannyaepik dan keren banget.
Akhirnya secara keseluruhan, Shazam! lagi-lagi adalah gol besar yang notabene sangat dibutuhkan oleh DCEU. Mari kita berharap saja semoga prestasi ini akan terus berlanjut di film-film selanjutnya nanti Amin.
Dan ya Kawan Sumber. Shazam! adalah film yang sangat layak untuk disaksikan. Bahkan apabila kalian bukan fans DC sekalipun, dijamin kalian akan suka banget malah mungkin, akan ingin menyaksikannya lebih dari 2 kali. Dan bagi kalian yang fans DC, dijamin akan puas banget karena filmnya banyak menampilkan refrensi-refrensi geeky baik dari mitologi si dewa superhero ini, maupun tentunya DC secara general. Film ini menampilkan 2 adegan kredit. Namun silahkan saksikan yang pertama saja dan lansung lanjutkan aktivitas kalian oke?
Score: 4.5 / 5
