Animo Masyarakat Membludak, PBSI Sarankan Pemerintah Bangun Venue Bulutangkis Internasional Selain Istora Senayan

Para penggemar bulutangkis Indonesia memadati Istora Senayan di Asian Games 2018 via bola.com
Sumber.com - Ketua Panitia Penyelenggara Indonesia Terbuka 2019, Ahmad Budiharto, beberapa waktu lalu telah meminta pemerintah untuk bisa membangun venue bulutangkis kelas internasional selain Istora Senayan. Permintaan tersebut diungkapkan Ahmad Budiharto karena menilai animo dari kalangan penggemar bulutangkis tanah air yang semakin membludak.
Selama ini setiap turnamen serta even bulutangkis internasional memang selalu terfokus di Istora Senayan yang memiliki kapasitas sebanyak 7 ribu penonton. Jumlah tersebut dianggap masih belum bisa menampung besarnya animo dari masyarakat penggemar olahraga tepuk bulu yang ada di Indonesia, belum lagi kalau ada warga negara lain yang ingin menyaksikan pertandingan bulutangkis di Indonesia secara langsung.
Dilansir dari laporan CNN Indonesia, hingga detik ini tiket pra jual Indonesia Terbuka 2019 yang dilego melalui sistem online sudah ludes terjual dalam satu jam setelah resmi dirilis pada 13 Juni lalu. Dari total kapasitas 7 ribu penonton, panpel Indonesia Terbuka 2019 hanya menjual 5 ribu tiket. Sisa kursi dipergunakan untuk menempatkan peralatan dan lainnya.
Sejak hari Rabu lalu hingga hari ini, tim ganda putra utama memindahkan latihan rutin mereka ke Solo. Seluruh pemain kecuali Marcus, pelatih Herry IP dan Aryono Miranat serta pelatih fisik Ricky Susiono ikut serta dalam program ini.
— BADMINTON INDONESIA (@INABadminton) June 28, 2019
? : Herry IP pic.twitter.com/rkugq3Tr8Y
Dengan adanya fakta tersebut, maka tidak berlebihan rasanya jika Ahmad Budiharto yang juga sekaligus bertindak sebagai perwakilan PBSI (Federasi Bulutangkis Indonesia) meminta agar pemerintah bisa kembali membangun venue bulutangkis yang baru dan tentunya sudah berstandar internasional.
Ahmad Budiharto juga menambahkan kalau saking membludaknya animo masyarakat terhadap perhelatan Blibli Indonesia Open 2019 untuk bisa menyaksikan pertandingan secara langsung. Pihak panpel masih harus menyediakan tiket fisik di loket dengan jumlah terbatas, untuk memenuhi animo masyarakat Indonesia.
"Justru saya lagi nyindir pemerintah. Saya baca di media, pemerintah mau bangun sekian venue, tapi saya lihat fokusnya di daerah-daerah. Bikin venue, dong. Jangan mengandalkan Djarum saja," ucap pria yang kerap dipanggil Budi ini.
Lebih lanjut Budiharto memberikan saran kepada pemerintah untuk membangun venue bulutangkis di Papua. Ia juga mengatakan bahwa dengan adanya penambahan stadion internasional di daerah yang lebih mudah terjangkau bisa sekaligus memangkas biaya akomodasi.
Yang ditunggu akhirnya tiba! Inilah harga tiket #BlibliIndonesiaOpen 2019, 16-21 Juli. Tiket sudah dibeli via https://t.co/dhCfZR9NrT dan https://t.co/yfg7AoARAi pada 10 Juni. Ayo #NgIstora!
— BADMINTON INDONESIA (@INABadminton) May 25, 2019
? : @DjarumBadminton pic.twitter.com/Ca8qjn7IYm
Budi juga menjelaskan bahwa biaya untuk menggelar turnamen level dunia tidak murah. Dana sekitar Rp 40 miliar dibutuhkan untuk menggelar Indonesia Terbuka 2019. Ia juga menjelaskan kalau turnamen bulutangkis paling bergengsi di dunia itu, telah menyita perhatian dari Warga Negara Asing.
"Ada 40 penonton dari Denmark yang minta diakomodir tiketnya. Mereka penonton biasa dan kesulitan mencari tiket. Sebenarnya itu biasa, seperti di All England juga ada penonton dari luar. Biasanya Eropa dari Denmark, kalau Asia dari Jepang dan China. Kalau hotel mereka sudah pesan sendiri, tiket saja belum dapat," beber pria yang juga menjabat Sekjen PBSI ini.
