Bukan Karena Kebetulan, Pelatih Jelaskan Kunci Kesuksesan Jonatan Christie Raih Sepasang Gelar BWF Super 300

Jonatan Christie via inews.id
Sumber.com - Keberhasilan pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie yang mampu meraih dua gelar secara beruntun dalam dua turnamen World Tour BWF 2019 telah menumbuhkan rasa optimis di kalangan pecinta bulutangkis tanah air yang mengharapkan prestasi dari sektor tersebut. Seperti diketahui, Joko sukses meraih gelar juara di New Zealand Open dan Australia Open 2019 secara berturut-turut.
Pro dan kontra memang akan selalu ada di dalam kehidupan. Begitu juga apa yang terjadi dengan publik penggemar bulutangkis tanah air. Dibalik pujian serta optimis yang tumbuh di kalangan pecinta pebulutangkis nasional, terdapat juga kritikan serta komentar bernada negatif.
(Blibli Indonesia Open 2019) Tiga Sektor Jadi Tumpuan https://t.co/UfeakOyjQ0 pic.twitter.com/InkaP3PfIe
— BADMINTON INDONESIA (@INABadminton) June 16, 2019
Tak sedikit yang menilai bahwa peraih medali emas Asian Games 2018 tahun lalu ini hanya sedang beruntung saja bisa meraih gelar juara di dua turnamen tur BWF secara berturut-turut. Komentar ini juga cukup berdasar mengingat, Jojo yang tak bisa memberikan penampilan luar biasanya ketika membela skuat Merah-Putih di ajang Sudirman Cup 2019.
Menanggapi adanya komentar negatif dari anak didiknya, Kepala Pelatih Tunggal Putra Pelatnas PBSI, Hendry Saputra memberikan alasan serta kunci keberhasilan dari Jojo yang berhasil tampil luar biasa dalam dua turnamen tur BWF terakhir ini.
"Jonatan dalam kondisi fisik yang prima, dia itu memang staminanya harus bagus. Jonatan mainnya perlu durasi panjang, tempo lama, jadi awalnya itu dulu, teknik dan cara main saya lihat dia bisa lebih menguasai," imbuh coach Hendry seperti dilansir situs resmi PBSI.
"Kedua, dari fokusnya Jonatan dan seberapa besar ambisinya untuk raih gelar. Tiga hal ini paling penting buat Jonatan. Kalau dibilang main lebih safe, memang kalau ketemu kompetitor dia, rata-rata memang sudah lebih safe. Dari beberapa stroke pukulan yang biasanya dia nggak yakin, sekarang lebih berani diterapkan dan menguntungkan, dari pukulan tipuan, atau ubah-ubah arah pukulan. Dari strategi pun sudah lebih baik," lanjutnya.
Lebih lanjut, Hendri juga mengatakan bahwa memang anak asuhnya telah tancap gas sejak turnamen New Zealand Open 2019 berlangsung, mengingat pengumpulan poin untuk bisa berlaga di Olimpiade Tokyo 2020 telah dimulai sejak itu. Ia juga menilai kalau Jojo tak pilih-pilih untuk mengikuti turnamen tur BWF, meskipun hanya berlabel level Super 3000.
"Saya rasa hasil ini cukup oke lah, di sebuah turnamen, nggak ada capaian yang lebih tinggi dari all Indonesian final. Bagi saya ini sudah oke, melebihi target, tadinya target salah satunya masuk final dan juara, tapi ini keduanya lolos."
"Kalau dibilang ini kan cuma Super 300, nggak apa-apa juara Super 300, sah saja, kan lagi mengejar poin untuk Olimpiade. Misalnya ada pemain yang nggak ikut Super 300 tidak apa-apa juga, tapi kalau pemain itu poinnya kurang, pasti nanti dicari juga turnamen super 300."
"Contohnya, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang juara All England ikut main di level Super 300 boleh nggak? Ya boleh saja, kan lagi cari poin ke Olimpiade. Tapi benar istilahnya bahwa Jonatan dan Anthony kalau di level super 300 memang sudah layaknya untuk juara," pungkasnya.
Kali ini tengah menjalani pemusatan latihan di Pelatnas Cipayung guna persiapan jelang berlaga di Blibli Indonesia Open 2019. Turnamen ini sendiri akan mulai berlangsung pada 16 hingga 21 Juli mendatang.
