Mereka Yang Terlibat Kerusuhan 22 Mei, Preman Tanah Abang Hingga Anak Dibawah Umur

Foto: Merdeka
Sumber.com - Aksi 22 Mei lalu meninggalkan beberapa pertanyaan yang belum tuntas. Pasalnya, kerusuhan tersebut dilakukan oleh sekelompok preman yang berasal dari Tanah Abang yang dibayar oleh kelompok tertentu. Kelompok mana, hingga saat ini belum jelas.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan para preman tersebut menerima bayaran Rp300 ribu.
"Betul preman Tanah Abang yang dibayar Rp300 ribu per hari. Sekali datang dikasih duit," ujarnya di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (23/5) lalu.
Dedi mengatakan selain preman Tanah Abang, massa berasal dari luar Jakarta seperti Jawa Barat dan Banten. Namun penyelidikan masih dilakukan oleh polisi. Ratusan tersangka itu masih menjalani pemeriksaan untuk diketahui perannya masing-masing dalam kerusuhan tersebut.
Polisi juga terus melakukan pemeriksaan untuk mengetahui aktor intelektual dibalik Aksi 22 Mei.
"Mayoritas berasal dari Jawa Barat dan Banten. Biar pemeriksaan tuntas dulu nanti akan ketemu aktor intelektualnya," tegasnya.
Sementara, setidaknya ada 447 orang yang telah diamankan pihak kepolisan hingga saat ini. Dari jumlah tersebut, 67 orang diantaranya adalah anak dibawah umur.
"Terkait dengan peristiwa 21-22 Mei lalu, sudah disampaikan dalam beberapa kesempatan yang lalu ada 447 tersangka yang telah ditetapkan dan di antaranya ada 67 anak-anak di bawah umur," tutur Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Senin (10/6/2019).
Untuk pelaku yang masih anak-anak itu, dilakukan diversi dan dikembalikan kepada orang tuanya, sementara sebagian menjalani pelatihan dan pembinaan.
Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, anak yang berkonflik atau berhadapan dengan hukum menjalani diversi atau pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.
Untuk aktor intelektual, koordinator lapangan dan eksekutor di lapangan dari 447 orang tersebut dikatakannya masih dipetakan dan segera diungkap.
"Masih pendalaman, secepatnya kami akan berikan update kepada teman-teman," tutur Asep.
