Lidah Mertua Andalan Anies Baswedan, Benarkah Bisa Lawan Polusi Udara Jakarta?

Lidah Mertua Andalan Anies Baswedan, Benarkah Bisa Lawan Polusi Udara Jakarta?

Untitled80

Ilustrasi via elnandar.com

 

Sumber.com - Baru-baru ini Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menarik perhatian publik yang mengatakan akan melakukan program penanaman tumbuhan lidah mertua (Sansevieria trifasciata) untuk menekan polusi udara di ibu kota.

 

Hal itu pun mengundang reaksi sejumlah pihak, apakah benar lidah mertua bisa atasi polusi udara Jakarta yang notabene terburuk di Asia Tenggara? Kabarnya, Pemerintah DKI Jakarta tengah melelang pengadaan dalam jumlah besar tanaman lidah mertua.

 

Rencananya, tanaman hias itu akan ditanam di atap-atap gedung perkantoran di ibu kota sebagai salah satu dari sekian cara untuk mengurangi polusi udara. Namun, mampukah lidah mertua efektif mengurangi polusi udara?

 

Dihimpun dari berbagai sumber, pada Rabu, 24 Juli 2019 dijelaskan bahwa lidah mertua memang tanaman yang cukup ampuh mengatasi polusi udara. Hal itu tertuang dalam tulisan berjudul Pemanfaatan Sansevieria Tanaman Hias Penyerap Polutan sebagai Upaya Mengurangi Pencemaran Udara di Kota Semarang yang diterbitkan Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 3 Tahun 2013.

 

Lidah mertua disebut memiliki kemampuan menyerap berbagai jenis gas polutan berbahaya. Selain itu , jika diletakkan di dalam rumah atau ruang kantor, tanaman ini akan bekerja menyaring kotoran, baru, atau gas polutan lain seperti karbon dioksida (CO2), benzene, formaldehyde, dan trichloroethylene.

 

Kendati demikian, dalam hasil penelitian Badan Antariksa Amerika Serikat (The National Aeronautics and Space Administration/NASA) mengungkapkan bahwa sampai saat ini belum ada riset yang membahas efek lidah mertua untuk mengurangi polusi di ruang terbuka.

 

Penelitian NASA yang dipublikasikan pada tahun 1989 itu terbatas pada ruang tertutup. Penelitian itu menyebut lidah mertua punya kualitas penyaringan udara di dalam ruangan dan mampu menghilangkan 4 dari 5 racun utama yang memicu penyakit dalam ruangan.

 

Lidah mertua menukar karbon dioksida dan oksigen melalui proses metabolisme asam crassulacean. Proses ini hanya dilakukan pada sebagian kecil spesies tanaman di dunia.

 

Kemudian pori-pori kecil pada daun tanaman, yang disebut stomata, digunakan untuk menukar gas. Pori-pori ini hanya terbuka pada malam hari agar air yang dikandung tanaman ini tidak keluar saat penguapan siang hari.

 

Baca juga: Membandingkan Jumlah Bintang Di Alam Semesta dengan Butiran Pasir Bumi, Mana Lebih Banyak?

 

Baca juga: Hari Anak Nasional 23 Juli, Berawal dari Soeharto