Ini Penyebab Klub Italia Tanpa Wakil Di Semifinal Kompetisi Eropa

Ancelotti saat latih Napoli via twitter
Sumber.com - Hasil perempat final di 2 kompetisi Eropa yaitu Liga Champions dan Europa League tidak menyisakan 1 pun tim Italia sebagai wakil di semifinal. Dua wakil Italia yang tersisa, Juventus dan Napoli yang juga 2 tim teratas di Liga Italia saat ini harus puas tersingkir. Dua wakil Italia ini harus kalah dikandangnya. Juventus kalah aggregat dari juara Belanda, Ajax Amsterdam dan Napoli kalah dari Arsenal 0-1 setelah sebelumnya imbang.
Ada beberapa faktor yang mendasari musim ini tim Italia jeblok di kompetisi Eropa. Salah satu yang terdepan adalah jauhnya jurang perbedaan antara Juventus dan tim-tim lain dibawahnya pada kompetisi domestik Serie A yang membuat tim-tim lain kehabisan nafas kala bertanding di kompetisi lain di luar Serie A. Di Italia, Juventus memang tergolong superior dan menjadi tim paling bertabur bintang.
Salah satunya akibat Juventus bisa memaksimalkan pendapatan dari stadion barunya dan mendatangkan bintang sekelas Cristiano Ronaldo sebagai magnet. Itulah yang membuat Juventus juga difavoritkan menjadi salah satu unggulan yang melenggang ke final. Namun ada satu yang membuat Juventus harus puas tersingkir lebih awal yaitu ketergantungan mereka yang begitu akut terhadap CR7 di Eropa.
CR7 sejauh ini memang sangat berperan dan berkontribusi penting bagi Juventus di Liga Champions. Dua gol Juventus kegawang Ajax pun disumbangkan sang pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Liga Champions yang membuatnya telah mencetak 125 gol sejauh ini. Namun belakangan CR7 dirundung masalah cedera dan kebugaran yang membuat bebannya terhadap tim jadi tinggi. Juventus kehilangan kolektivitasnya ketika CR7 bermain.
Hingga Ajax pun membaca celah tersebut dan mengunci kemenangan lewat kolektivitas tim dari para pemain muda yang terbilang superior. Kualitas Serie A yang tidak kunjung membaik juga membuat tim-tim lain tidak kunjung naik kelas menjadi tim yang lebih baik. Faktor wasit dan rasisme menjadi penghalang kualitas liga Italia bisa naik menyamai Premier League, La Liga dan bahkan Bundesliga.
Kecenderungan wasit membantu "Juventus" seringkali membuat Serie A tidak sebersih Premier League. Banyak kejadian yang menguntungkan Juve dan bahkan membuat Komisi Wasit dan federasi mempertemukan para wasit dengan perwakilan AC Milan beberapa waktu lalu sebagai permohonan maaf akibat keberpihakan wasit.
Rasisme terhadap pemain hitam membuat para pemain berkualitas dari beberapa negara enggan datang ke Italia. Rasisme terhadap pemain seperti Moise Kean, Tiemueu Bakayoko, Franck Kessie masih muncul didengar oleh suporter lawan. Satu hal lagi, rata-rata klub sepakbola Italia belum memiliki stadion sendiri seperti Juventus sehingga pendapatan mereka pun harus terbagi dengan pemerintah kota sebagai pemilik stadion.
Ancelotti yang pernah melatih Chelsea, Real Madrid hingga Bayern pun melihat perbedaan itu dengan menyebutkan kualitas Liga Serie A masih jauh dibawah ketiga kompetisi di 3 negara yang pernah dilatihnya tersebut. Ancelotti yang musim ini didaulat menjadi pelatih Napoli agar bisa kembali juara pun mengungkapkan beberapa perbedaannya.
"Rasisme, fokus klub dalam pembinaan usia muda dan kualitas wasit menjadi pembeda tim-tim Serie A bisa sukses di Eropa. Di Italia, menjuarai Serie A sudah seperti menjuarai segalanya padahal di Inggris, Spanyol dan Jerman klub menargetkan minimal meraih 3 trofi setiap musimnya atau dibilang gagal" kata Ancelotti
Ketertinggalan klub dalam hal infrastruktur dan pembinaan usia muda menjadi penyebab timnas Italia pun tak kunjung berprestasi. Kemudian ditambah rasisme dan wasit yang berpihak menjadi sumber penghalang kualitas tim bisa bagus ketika bermain di Eropa. Jadi kapan berbenah Serie A?
