Korban Jiwa Pemilu Serentak 2019 Paling Banyak, Perludem: Harus Dievaluasi

Foto: Suara.com
Sumber.com - Pemilu Serentak yang diselenggarakan pada 17 April 2019 memakan korban jiwa hingga puluhan orang. Beberapa diantaranya meninggal karena kelelehan karena harus bekerja ekstra. Di Jawa Barat, petugas KPPS yang meninggal sedikitnya 12 orang, mereka bertugas di sembilan kabupaten/kota. Hal ini dikatakan Ketua KPUD Jawa Barat, Rifqi Ali Mubarok, seperti diberitakan Antara.
Direktur Eksekutif Perkumpulan Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini mengklaim adanya peningkatan jumlah korban jiwa dibanding pemilu sebelumnya.
"Jadi memang tahun ini, kalau saya bandingkan dengan 2004, 2009, dan 2014, 2019 adalah peristiwa di mana korban jiwa itu paling banyak," ungkap Titi di kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Minggu (21/4/2019).
Dia pun menambahkan, mestinya ada santunan sepadan untuk para korban. Dikabarkan hingga saat ini belum ada kepastian santunan untuk para korban.
"Menurut saya kepada para petugas yang mengalami, menjadi korban jiwa dan yang sakit atau pun luka karena kecelakaan kerja, harusnya negara memberi kompensasi yang sepadan. Saat ini mereka tidak mendapatkan asuransi kesehatan, kematian, atau pun ketenagakerjaan," sambungnya.
Sementara, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mencatat terdapat 31 orang anggota KPPS yang meninggal dunia saat Pemilu 2019. Jumlah ini disebut masih akan dinamis karena belum seluruhnya dilaporkan. MUI pun mwngusulkan agar pemerintah memberikan perhatian kepada korban.
"Kepada Pemerintah MUI mengimbau kiranya bisa memberikan perhatian dan imbalan sepantasnya atas jasa dan pengorbanan mereka," kata Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa'adi dalam keterangan pers yang Minggu (21/4).
Selain karena banyaknya korban petugas KPPS karena kelelahan, MUI juga menyoroti aspek kesiapan SDM masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya. Menurut Zainut, banyak laporan dari masyarakat yang menyatakan banyak kertas suara rusak dan tidak dicoblos pemilih karena kebingungan banyaknya kertas suara yang diterima.
MUI juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga suasana aman dan kondusif, serta menjauhi segala bentuk provokasi dan ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah umat, bangsa dan negara. Zainut juga menyebut MUI siap menjadi mediator dan fasilitator rekonsiliasi dan ishlah nasional untuk kesatuan dan keutuhan bangsa Indonesia usai Pemilu 2019.
