PPP, Golkar dan Demokrat Terang-Terangan Jadi Partai yang Bermain Dua Kaki di 01 dan 02

Kader Golkar dan PPP dukung Paslon 02/istimewa
Sumber.com - Delapan hari jelang pesta demokrasi yang berlangsung 17 April 2019, dinamika politik berlangsung sangat dinamis. Adanya pembelotan-pembelotan partai yang tergolong dalam koalisi untuk menyeberang mendukung pasangan calon lainnya menjadi hal yang tidak bisa dibendung. Belakangan 3 partai secara terang-terangan mulai melakukan politik 2 kaki. Mereka adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Golkar dan Partai Demokrat.
Ditangkap tangannya Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy oleh KPK menjadi langkah awal, banyaknya sayap-sayap partai yang memutuskan pindah halauan dari 01 menjadi 02. Salah satunya adalah suara kader PPP di Yogyakarta yang terbelah. Beberapa orang yang tidak mengakui kepengurusan PPP yang sah mendeklarasikan PPP Khittah dan terang-terangan mendukung pencapresan Prabowo.
Hal itu bahkan terlihat dari kehadiran Gerakan Pemuda Ka'bah (GPK), sayap partai PPP yang membawa bendera berlambang kaabah dalam kampanye terbuka Prabowo di Yogyakarta. Hal yang sama juga terjadi di Sukabumi dimana banyak simpatisan PPP hadir dalam kampanye Prabowo Sandi. Pada pemilu sebelumnya kala dipimpin Surya Darma Ali, PPP memang jadi partai pendukung Prabowo - Hatta dan berpindah halauan ketika dipimpin Romahurmuziy.
Hal yang mirip terjadi juga terjadi pada partai Golkar. Pendeklarasian Golkar akibat desakan massa arus bawah di Wonosobo yang lebih kuat untuk mendukung paslon 02 telah membuat Ketua DPD II Golkar Kab. Wonosobo Triana Widodo dipecat dari jabatannya. Triana Widodo bahkan hadir di Yogyakarta untuk ikut kampanye Prabowo Sandi. Pada pemilu 2014 lalu, Golkar yang dipimpin oleh Aburizal Bakrie juga mendukung Prabowo sebagai capresnya.

Sementara itu kader-kader Partai Demokrat, justru melakukan hal yang sama dimana Demokrat yang tergabung dalam koalisi Indonesia Adil Makmur banyak menyeberang mendukung pasangan Jokowi - Maruf. AHY pun menanggapi hal tersebut dengan pernyataan beda pilihan bukanlah hal yang luar biasa. Dan menganggap hal tersebut sebagai dinamika politik yang terjadi.
Pantesan banyak kader Demokrat di daerah justru mendukung Jokowi pic.twitter.com/9kceb3eId6
— 01 tetap presidenku (@feng_lauw) April 7, 2019
Dengan memainkan politik dua kaki, ketiga partai politik ini setidaknya menjaga bahwa kekuasaan tetap dekat dengan mereka meski di awal ketiga partai ini memiliki preferensi pilihan yang berbeda di tingkat atas. Hanya saja arus bawah partai dan kader tetap bisa memilih pilihannya sendiri. Inilah demokrasi di Indonesia!
