Waspada Cacar Monyet! Kenali Gejala dan Penyebab Penyakit Asal Afrika Ini

Ilustrasi via Tribunnews
Sumber.com – Beberapa pekan terakhir, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan berita soal beredarnya virus cacar monyet. Kasus ini bermula saat diketahui bahwa ada seorang perempuan di Singapura ditemukan terinfeksi virus cacar monyet.
Padahal cacar monyet merupakan penyakit endemik di wilayah Afrika Tengah dan Barat. Lantas, apa sebenarnya cacat monyet itu dan apa bedanya dengan cacar pada umumnya?
Dikutip dari Hello Sehat, pada Selasa, 21 Mei 2019 menjelaskan bahwa cacar monyet adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus cacar monyet. Virus ini biasanya dibawa oleh binatang liar, seperti tupai. Namun disebut cacar monyet karena para peneliti pertama kali melihat virus ini pada sekelompok monyet yang tengah diteliti.
Cacar monyet adalah penyakit akibat virus yang ditularkan lewat hewan, bisa melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, luka pada kulit atau mukosa binatang yang terinfeksi. Di Afrika, penularan ke manusia terjadi karena kontak sehari-hari dengan monyet, tupai, dan tikus Gambia yang terinfeksi.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono mengungkapkan bahwa penularan virus ini dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi. dibutuhkan inang yang terinfeksi untuk virus ini bisa menular ke manusia.
“Sejauh yang kami tahu, hewan ini tidak ada di Indonesia. Adanya di Afrika. Belum ditemykan inang atau tempat infeksi monkeypox,” ujarnya.
Meski begitu, Kawan Sumber perlu tahu gejala hingga cara mencegah cacar monyet tersebut.
Gejala
Seseorang yang menunjukkan gejala terjangkit cacar monyet biasanya mengalami dua periode, yaitu periode invasi dan periode erupsi kulit. Pada periode invasi, seseorang akan berada dalam masa waktu 0-5 hari setelah terinfeksi virus pertama kalinya. Dirinya akan menunjukkan beberapa gejala, seperti:
- Demam
- Sakit kepala hebat
- Limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening)
- Sakit punggung
- Nyeri otot
- Lemas parah (asthenia)
Baca juga: Berat Badanmu Naik Selama Puasa? Lakukan 3 Saran dari Para Ahli ini
Pembengkakan kelenjar getah bening menjadi ciri pembeda antara cacar monyet dengan jenis cacar lainnya. Pada cacar biasa, tidak terjadi pembengkakan kelanjar getah bening.
Sementara periode erupsi kulit terjadi pada 1-3 hari setelah demam muncul. Tanda bahwa Anda berada dalam fase ini adalah dengan munculnya ruam. Ruam pertama kali muncul di wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Wajah dan telapak tangan serta kaki adalah area yang paling terdampak ruam ini.
Ruam yang terbentuk biasanya diawali dengan ruam yang datar hingga vesikel, yaitu seperti bentol dengan cairan di dalamnya. Ruam ini kemudian akan membentuk kerak. Perkembangan ruam ini akan terjadi dalam waktu kurang lebih 10 hari. Dibutuhkan waktu sekitar tiga minggu hingga bekasnya hilang total.
Seperti infeksi virus lainnya, cacar monyet juga dapat sembuh sendiri setelah gejala berlangsung 14-21 hari. Kelompok usia yang lebih muda lebih rentan terhadap penyakit yang satu ini.
Baca juga: Kerokan, Bisakah Sembuhkan Bule Masuk Angin?
Pencegahan
Beberapa hal lain yang juga dapat Anda lakukan untuk mencegah cacar monyet, antara lain:
- Menghindari kontak langsung dengan tikus, primata, atau hewan liar lainnya yang mungkin terpapar virus (termasuk kontak dengan hewan yang mati di daerah terinfeksi)
- Menghindari kontak dengan benda apa pun, seperti tempat tidur, yang pernah disinggahi oleh hewan yang sakit
- Tidak makan daging hewan liar yang tidak dimasak dengan baik
- Menjauhkan diri sebisa mungkin dari pasien yang terinfeksi
- Bagi petugas medis, gunakanlah masker dan sarung tangan saat menangani orang yang sakit
