Partai Mercy, Yang Terasing Di Koalisi Prabowo - Sandi

Foto: Pemilu.org
Sumber.com - Pada Pemilu 2019, Partai Demokrat mengusung Paslon 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Partai Mercy bergabung dengan partai lain seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Berkarya.
Sejak memutuskan bergabung bersama kubu oposisi, Demokrat kerap memiliki pertentangan dengan keputusan tim Prabowo. Misalkan, ketaksetujuan partai besutan Susilo Bambang Yudhyoyono itu terkait keputusan Prabowo meminang Sandiaga sebagai cawapres.
Wasekejen mereka, Andi Arief bahkan kerap memberikan kritik, seperti misalkan tudingan soal isu mahar politik miliaran rupiah terhadap PKS dan PAN agar mau bergabung bersama koalisi serta mangut-mangut saat koalisi menunjuk Sandiaga sebagai pendamping Prabowo.
Belakangan pasca Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil rekapitulasi suara yang menghasilkan kemenangan Paslon 01 Joko Widodo - Ma'ruf Amin, Demokrat pun disinyalir merapat ke kubu petahana. Salah satu petinggi mereka Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) beberapa kali sowan ke tokoh-tokoh di Tim Kampanye Nasional (TKN) termasuk kepada Jokowi.
Diduga, Demokrat mulai meninggalkan koalisi. Wakil Ketua Dewan Kehormatan DPP PAN Dradjad Wibowo mengatakan bahwa Demokrat memang tidak sejalan dengan BPN itu sendiri.
"Harus diakui bahwa memang Demokrat saat ini tidak sejalan dengan koalisi Prabowo-Sandi. Dan sejauh ini tidak berpengaruh pada internal koalisi," kata Drajad seperti dikutip dari Antara, Sabtu (8/6/2019).
Hal itu, menurut dia, terlihat dari sikap dan pernyataan elite Demokrat yang tidak sejalan dengan koalisi Prabowo-Sandi. Namun Drajad menilai, sikap dan langkah politik Demokrat itu merupakan hak sepenuhnya partai tersebut dan PAN tidak bisa ikut campur.
Drajad memastikan, hingga kini PAN masih tetap berada dalam Koalisi Adil Makmur. Namun apabila ada pernyataan ataupun manuver politik yang dilakukan kader PAN seolah-olah partainya pindah koalisi, hal itu merupakan sikap pribadi.
"Memang ada pernyataan maupun manuver politik yang dilakukan oleh individu dari DPP PAN, yang memberikan kesan seolah-olah kami pindah koalisi. Tapi sebagai organisasi, PAN tetap di koalisi Prabowo-Sandi sesuai keputusan Rakernas 2018," ucap Drajad.
Sebelumnya, politisi Partai Demokrat Andi Arief melalui akun Twitter, mengungkit kembali peristiwa pemilihan cawapres Sandiaga Uno. Deklarasi capres-cawapres Prabowo-Sandi pun tidak melibatkan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Komandan Kogasma Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Partai Demokrat.
"Pasangan 02 deklarasi capres-cawapres tanpa melibatkan Partai Demokrat, SBY, dan AHY. Artinya, merasa kuat dan punya perhitungan sendiri untuk menang," kata Andi.
Namun, dia menilai dalam kenyataannya pasangan tersebut kalah, terpuruk, tetapi justru malah menyalahkan Partai Demokrat, SBY, dan AHY atau dinilai "ngambek" pada kekuatan yang tidak dilibatkan. Andi Arief kesal karena koalisi Prabowo-Sandiaga dan pendukungnya seolah-olah menyalahkan partainya, SBY dan AHY.
Padahal, menurut dia, Demokrat tidak pernah dilibatkan dan kerap diabaikan dalam Koalisi Indonesia Adil Makmur yang terdiri dari Gerindra-PKS, PAN, Demokrat, dan Partai Berkarya.
