Jelang Haid Nafsu Makan Junk Food Meningkat, Kenapa Ya?

Ilustrasi via maya-fashion.com
Sumber.com - Tak sedikit perempuan yang sedang mengalami premenstrual syndrome (PMS) bertingkah aneh atau menginginkan sesuatu. Mulai dari mudah uring-uringan, super sensitif, hingga mendadak ingin menyantap junk food.
Selain gampang uring-uringan, perubahan paling menonjol ketika jelang haid adalah perubahan pola makan yang tak biasanya. Dilansir Curiosity, Kamis, 25 Juli 2019, mengidam junk food merupakan satu dari sekian banyak gejala sindrom pramenstruasi.
PMS kemungkinan disebabkan oleh fluktuasi hormon mempengaruhi otak yang mempengaruhi senyawa organik endogenus pembawa sinyal di antara neuron di otak yang disebut neurotransmitter. Sindrom pramenstruasi ini biasanya dimulai saat pelepasan sel telur saat ovulasi dan berakhir ketika periode dimulai. Gejala ini biasanya sembuh sekitara hari ketiga atau keempat menstruasi.
Para peneliti disebut telah mengumpulkan lebih dari 150 gejala PMS yang berbeda. Mulai dari perubahan fisik hingga emosional, juga perilaku serta kognitif.
Mengidam makanan, termasuk junk food termasuk dalam gejala PMS yang paling umum dilaporkan. Bersama dengan perubahan suasana hati, lekas marah, kecemasan dan ketegangan, serta suasana hati yang sedih atau depresi.
"Seorang wanita tidak memerlukan diagnosis resmi PMS untuk melaporkan hasrat untuk makan cokelat atau junk food. Sebanyak 85 persen wanita memiliki gejala pramenstruasi yang terlihat. Bahkan satu studi menunjukkan bahwa 97 persen wanita mengalami mengidam makanan," demikian dijelaskan.
Data penelitian pun mengonfirmasi bahwa wanita cenderung makan lebih banyak selama fase luteal dari siklus menstruasi, dibandingkan dengan fase folikuler yang mengarah ke ovulasi. Peningkatan asupan makanan pun mencapai 500 kalori ekstra per hari.
Kendati demikian, para peneliti tidak tahu pasti penyebab wanita begitu mengidamkan banyak makanan saat PMS. Namun, ada satu gagasan yang mengungkapkan bahwa wanita secara tidak sadar menggunakan makanan sebagai terapi farmakologis.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa wanita dalam fase luteal mereka menginginkan karbohidrat lebih banyak dibandingkan dengan selama fase folikuler mereka.
Mengkonsumsi karbohidrat meningkatkan kadar serotonin, neurotransmitter dalam sistem saraf pusat, yang berkontribusi terhadap rasa tenang dan kebahagiaan secara umum untuk membuat suasana hati kembali normal.
Para peneliti menemukan bahwa "memikirkan" makanan yang benar-benar enak adalah provokasi yang paling umum untuk ingin mengonsumsinya dan bahwa mengidam tidak semata-mata didorong oleh rasa lapar. Wanita juga biasanya melaporkan pemicu spesifik untuk memikirkan makanan adalah membantu mengurangi perasaan tidak menyenangkan - seperti yang mungkin dialami seseorang ketika PMS.
Para ilmuwan pun telah mengamati bahwa wanita cenderung makan lebih banyak ketika kadar estrogen rendah dan kadar progesteron tinggi - seperti yang terjadi selama PMS.
Baca juga: [Mitos Atau Fakta] Gancet Adalah Hukuman Untuk Pasangan Yang Bersebadan di Luar Nikah
Baca juga: Sering Disindir 'Bokong Tepos'? Jangan Sedih, Makanan Ini Dijamin Bikin Bokongmu Seksi dan Berisi
