Lewat Titipan, Cara 'Unik' Megawati Ucapkan Selamat Saat SBY Jadi Presiden

Lewat Titipan, Cara 'Unik' Megawati Ucapkan Selamat Saat SBY Jadi Presiden

llyxod6llts4hwh7ivjr

Foto: Kumparan

 

Sumber.com - Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno buka suara soal kemungkinan Paslon 02 memberikan ucapan selamat kepada Joko Widodo - Ma-ruf Amin yang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) ditetapkan sebagai pemenang Pilpres 2019.

 

Sandi menyinggun soal sikap Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri yang juga tidak memberikan ucapan selamat saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia. 

 

"Kita enggak pernah melihat itu (ucapan selamat) dilakukan oleh Ibu Presiden Megawati waktu 2004, tidak melihat itu disampaikan oleh Bu Megawati ke Pak SBY di 2009," ujar mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut.

 

Betulkah saat itu Mega tidak mengucapkan selamat kepada SBY? 

 

Pada dasarnya, Mega sendiri memang tidak mengucapkannya namun diwakili oleh suami, Taufik Kiemas. Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal PDIP Pramono Anung waktu itu. 

 

"Yang sampaikan selamat itu Pak Taufik atas nama keluarga," kata dia kepada wartawan, Rabu (19/8/2009) malam dirangkum okezone.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina yang juga calon Wakil Presiden, Prabowo Subianto lebih dulu mengucapkan selamat atas kemenangan SBY-Boediono dalam ajang Pilpres 2009 ini. Diketahui, hubungan Mega-SBY saat itu memang renggang.

 

Ini karena pada awalnya SBY hanyalah seorang menteri di Kabinet Mega, sebelum akhirnya memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi presiden. Kala itu, di era kepresidenan Megawati Soekarnoputri, jabatan SBY adalah Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam).

 

Di masa sebelumnya, ketika Abdurahman Wahid (Gus Dur) masih jadi presiden, SBY pernah menjabat Menteri Pertambangan dan Energi lalu Menkopolsoskam. 


Namun karena dianggap masih memiliki wibawa sebagai jendral, SBY kemudian memiliki banyak pengagum. SBY kemudian maju bersama Partai Demokrat dan melepas jabatannya di kabinet. 

 

Bersama Jusuf Kalla, SBY pun maju sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden 2004-2009. Lawannya di putaran pertama (5 Juli 2004) adalah Amien Rais-Siswono Yudo Husodo, Hamzah Haz-Agum Gumelar, Megawati-Hasyim Muzadi, dan Wiranto-Salahuddin Wahid. SBY unggul dan maju ke putaran kedua melawan Megawati-Hasyim Muzadi.

 

Dalam debat calon presiden putaran kedua pada 16 September 2004, tak ada jabat tangan antar-capres. Megawati dari jauh hari sudah berpesan ke panitia untuk meniadakan momen jabat tangan. Di Pilpres putaran kedua (20 September 2004), Megawati-Hasyim Muzadi mendapat 44.990.704 suara dan SBY-Jusuf Kalla meraih 69.266.350 suara.

 

SBY menang telak atas bekas bosnya.


Merasa dikalahkan oleh anak buah, Mega seperti tak terima. Bahkan dia merasa tak kepikiran untuk sekedar mengucapkan selamat atas kemenangan SBY. Sebagai mantan presiden, Mega tak hadir dalam upacara pelantikan SBY. 

 

Bahkan meski diingatkan beberapa pihak untuk datang demi menjaga citra Mega dimata masyarakat, tatap saja dia tidak mau. Bahkan menonton lewat televisi pun tidak. Megawati, seperti dicatat Tjipta Lesmana dan dimuat di Media Indonesia (21/10/2004), memilih berada di kebun rumahnya di Jalan Kebagusan sambil membaca buku.


Hebatnya, selama 10 tahun SBY menjabat sebagai orang nomor 1 di Indonesia, Mega tak pernah datang di upacara kemerdekaan Indonesia di Istana Negara.