Jokowi dan Lagu Lama Berjudul Esemka

Foto; Suaranasional
Sumber.com - Jelang Pilpres 2019, nama Esemka kembali muncul ke depan politik. Mobil ini tentunya bukan barang baru, terutama dalam kaitannya dengan Presiden Joko Widodo. Jauh sebelum Pilpres 2019 yang akan digelar bulan depan, Jokowi telah mempopulerkan Esemka.
Saat menjabat sebagai Walikota Solo Jokowi memutuskan untuk menggunakan Esemka sebagai kendaraan dinasnya. Esemka kemudian menjadi mobil yang diburu banyak orang. Banyak pejabat yang menginginkannya. Kabarnya pada tahun 2013 sudah ada 7.000-an unit Esemka terpesan salah satunya untuk Menteri PU saat itu.
Namun Esemka seolah isapan jempol saja karena hingga saat ini mobil belum juga muncul.
Tahun 2015 silam Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo menagih janji mantan atasannya, Joko Widodo ihwal proyek mobil nasional (mobnas). Sewaktu Jokowi menjabat Wali Kota Solo dan Rudy sebagai wakilnya, mereka memang sepakat mempromosikan mobil karya anak bangsa tersebut.
Namun belakangan Hadi mengungkapkan bahwa rupanya Jokowi tidak serius menggarap proyek Esemka.
Sekedar mengingatkan juga, dua unit mobil yang dijadikan kendaraan dinas Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo saat itu, hasil karya SMKN 2 Trucuk, Kabupaten Klaten, Jateng bersama bengkel body repair dan cat Kiat Motor, Klaten. Setelah mobil prototipe SUV moncer dipromosikan Jokowi, bengkel Kiat Motor kebanjiran order.
Ribuan pemesan seluruh penjuru Tanah Air, karena harganya di bawah angka Rp 100 juta.
Pada Oktober 2018 lalu, Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin memberikan angin segar bahwa Esemka akan segera diluncurkan. Saat berkunjung ke Jawa Timur pada September lalu, Ma'ruf sempat menyampaikan bahwa Mobil Nasional Esemka bakal diluncurkan pada Oktober 2018. Akan tetapi ucapannya itu tak kunjung menjadi kenyataan.
Atas ucapan tersebut, mantan Ketua Rais Aam Nahdlatul Ulama itu sempat dituding menyebar hoaks. Ma'ruf keberatan dengan tuduhan tersebut dan berkilah bahwa dirinya hanya meneruskan kabar peluncuran Esemka dari pihak yang ingin memproduksi mobil itu.
"Ya kita tunggu saja lah," katanya.
Pengamat politik Rocky Gerung menilai bahwa ilusi soal Esemka bisa menyeret Jokowi dan Ma'ruf sebagai penyebar hoaks. Reaksi Rocky ini disampaikannya terkait ucapan Menkopolhukam Wiranto yang menyerukan hukuman bagi penyebar hoaks.
Dalam pandangan Rocky, jika memang pelaku penyabaran hoaks dihukum, maka Jokowi dan Ma'ruf harus dihukum karena hoaks Esemka.
"Kalau sekarang dipakai undang-undang terorisme, siapa pembuat hoaks terbaik dan terbanyak, ya presiden. Dari awal presiden telah bikin hoaks tentang Esemka maka perlakukan undang-undang terorisme pertama pada presiden. Kan itu konsekuensi-konsekuensi dari cara berpikir hukum yang otoriter akan kena dirinya sendiri," ujar Rocky saat menjadi pembicara dalam program Indonesia Lawyers Club di TV One, Selasa (26/3).
Sedangkan dalam hal Ma'ruf. Rocky menyinggung soal produksi Esemka bulan Oktober 2019 seperti yang pernah disampaikan Mantan Ketua MUI itu.
"Siapa lagi yang kena selain presiden, ya Pak Ma'ruf Amin yang juga mengaminkan akan ada produksi Esemka bulan Oktober lalu," tambahnya.
Sementara juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Arya Sinulingga menilai tudingan Rocky terhadap Jokowi sebuah kekeliruan yang fatal. Arya menganggap Rocky tak mengerti definisi hoaks.
"Hoaks itu kan mengelabui fakta yang ada, dia putar-putar. Dia bohong mengelabui opini publik. Ini kan tidak ada sama sekali fakta yang dikelabui oleh Pak Jokowi untuk kasus Esemka," kata Arya.
Arya menganggap Rocky telah menggiring opini publik agar punya pandangan seolah-olah Jokowi telah mengelabui rakyat. Padahal, kata Arya, Rocky hanya bermain bermain kata-kata alias ngibul.
"Itu bisa-bisanya Rocky Gerung saja supaya seru-seruan diskusi. Sudah saya bilang, dia itu tukang ngibul," kata Arya.
