Waspada, Pemilu Akan Menghasilkan Orang Gila

Waspada, Pemilu Akan Menghasilkan Orang Gila

Pemilu 2019 Orang Gila Boleh Nyoblos Pakar Sebut Itu Ngawur69f859da393b54ea.md

Foto: Steemit

 

Sumber.com - Pemilu adalah pesta rakyat. Meski begitu kontestasi politik ini melibatkan pelaku aktif yang bertarung memperebutkan kursi sebagai wakil rakyat di pemerintahan. Para kandidat tersebut adalah caleg, berbagai cara mereka lakukan untuk duduk di pemerintahan. 

 

Banyak hal yang dikorbankan caleg untuk mewujudkan impiannya. Tak jarang, mereka rela menjual aset milik pribadinya atau meminjam uang sebagai modal kampanye politik. Apabila mereka terpilih nanti, perkara selesai. Namun beda cerita jika mereka gagal. 

 

Salah-salah, gangguan jiwa adalah taruhannya. Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Kesehatan, kontestasi pemilu 2009 dan 2014 memicu ribuan caleg mengalami gangguan jiwa. Rata-rata politikus lokal ini kecewa dan stres berkepanjangan karena gagal memperoleh suara yang bisa mengantarkan mereka jadi legislator, padahal terlanjur menggelontorkan uang pribadi dalam jumlah besar—bahkan sampai menggadaikan aset macam rumah dan mobil.

 

Nova Riyanti Yusuf, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang DKI Jakarta, mengatakan di Indonesia sudah banyak bermunculan gejala yang disebut sebagai stres usai pemilu (post-election stress disorder, PSED).


"Di kalangan psikiater Indonesia, PSED belum resmi dianggap sebagai disorder, tapi kami pernah mengadakan preliminary survey kecemasan akibat Pemilihan Gubernur DKI," ujar Nova beberapa waktu lalu.

 

Survei yang dimaksudkan Nova dibuat oleh PDSKJI dan Selasar, dilakukan dalam masa Pilkada DKI Jakarta 2017. Ia punya 107 partisipan, dengan 85 di antaranya adalah milenial (usia 19-27 tahun) dan 29 persen punya KTP DKI Jakarta. Survei ini menggunakan sistem Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS), yang mengajukan 50 pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, untuk mengukur tingkat kecemasan. 



Jika jawaban ya kurang dari 7, berarti tingkat kecemasan responden bersangkutan rendah. Jika jawaban ya berkisar 7 hingga 21, itu artinya tingkat kecemasan sedang. Jika responden menjawab lebih dari 21 jawaban ya: tingkat kecemasannya tinggi. 


Hasil survei itu cukup mengejutkan. Sebanyak 58 persen partisipan, atau 62 orang, mengalami kecemasan tinggi. Menariknya, yang tidak mencoblos punya persentase kecemasan yang lebih tinggi ketimbang yang tidak mencoblos. Pada Pilgub DKI, topik yang paling membuat cemas adalah perkara ras dan etnis. Selain itu, ada 66,7 persen yang merasa cemas karena kehilangan teman akibat Pilgub.