Gerhana, Bantahan Untuk Teori Bumi Datar?

Foto: VoaIndonesia
Sumber.com - Belakangan, banyak orang yang percaya bahwa bumi berbentuk datar, tidak seperti apa yang diajarkan di akademik bahwa bumi berbentuk bulat. Kaum Flat Earth, demikian mereka, orang yang percaya bahwa bumi datar, disebut. Perdebatan antara penganut faham bumi datar dan bumi bulat pun tidak bisa dielakan.
Salah satunya adalah penjelasan tentang gerhana yang pada dasarnya tidak bisa dijelaskan secara ilmiah oleh kaum bumi datar. Mereka meyakini gerhana disebabkan oleh sesuatu (sesuatu yang mungkin ukurannya sama, tidak selalu bulan) yang lewat di depan matahari di bawah kubah raksasa.
Teori Bumi datar menunjukkan bahwa kita hidup di bawah kubah/gelembung raksasa yang menutupi seluruh Bumi yang datar. Matahari dan bulan melakukan perjalanan bolak-balik melintasi langit-langit kubah, inilah yang mereka yakini atas kegiatan Matahari terbenam dan terbit.
Jadi gerhana hanya berarti sesuatu--mungkin Bulan, mungkin planet lain--lewat di depan Matahari selama perjalanan reguler melintasi langit kubah. Teori sama juga berlaku bagi gerhana bulan. Dalam beberapa kasus, pendukung teori Bumi datar percaya bahwa tepi dari piringan Bumi yang datar dikelilingi oleh dinding es.
Pemahaman kaum bumi datar pun menjelaskan fenomena gerhana berdasarkan persepsi mereka. Mereka mempersoalkan jalur gerhana matahari yang bergerak dari barat ke timur. Yang lainnya adalah ukuran bayangan bulan di bumi.
Argumen pertama adalah jika Bumi berotasi dari barat ke timur, maka bayangan harus melewati permukaan Bumi dari timur ke barat, seperti Matahari bergerak melintasi langit. Namun, penting untuk memahami kecepatan perjalanan Bumi dan bulan. Menurut NASA, bulan melakukan perjalanan ke timur karena mengorbit Bumi sekitar 3.400 km per jam. Dibandingkan dengan Bumi yang berputar ke arah timur pada 1.670 km per jam di khatulistiwa.
Ini berarti bayangan Bulan akan bergerak dari barat ke timur pada 1.730 km per jam di khatulistiwa.
Sebagai analogi, bayangkan mobil B melewati mobil A di jalan raya. Mobil A akan menemukan benda-benda lebih dahulu yang lewat di mobil dari kap depan dan berjalan menuju bemper belakang. Namun, dalam kasus mobil B yang yang melewati mobil A, mobil B akan melakukan perjalanan dari bemper belakang ke kap depan mobil A.
Argumen kedua adalah bahwa bayangan yang dipancarkan Bulan di Bumi harus lebih besar dari pada Bulan itu sendiri. Mereka mempertanyakan bagaimana sebuah benda bisa membuat bayangan lebih kecil dari dirinya sendiri. Walt Johnson, salah satu pendukung teori Bumi datar secara pribadi melakukan eksperimen untuk mensimulasikan gerhana. Ia menyinari cahaya pada objek untuk melihat apakah ia bisa menemukan cara bagi sebuah objek untuk membuat bayangan yang lebih kecil.
"Tidak ada cara untuk melakukannya," katanya kepada situs berita Mic, yang melakukan kumpulan video dan unggahan blog YouTube dari pendukung teori Bumi datar daring terkemuka untuk mengantisipasi gerhana matahari minggu lalu.
Dia pun kemudian melakukan percobaan itu dengan menyorot bola menggunakan lampu LED.
Tapi seperti yang dikatakan Bryan Gaensler, direktur Dunlap Institute for Astronomy and Astrophysics University of Toronto, Anda tidak dapat menciptakan gerhana "di ruang keluarga Anda." Hal itu karena Matahari tidak seperti lampu atau lampu senter. Ia adalah sumber cahaya yang menyebar, menyebar secara merata di atas permukaan yang luas. Sehingga dibutuhkan bola pantai besar yang memancarkan cahaya, katanya.
Dan Anda perlu membawanya jauh, di seberang jalan mungkin, untuk mensimulasikan jarak antara Matahari dan bulan.
Sementara, teori bumi bulat menyimpulkan bahwa gerhana merupakan sanggahan dari teori bumi datar. Sebagai contoh, gerhana bulan terjadi karena bayangan bumi menutup bulan purnama. Dari situ bisa terlihat kelengkungan bayangan gelap bumi di bulan yang berarti bahwa bumi memang berbentuk bulat.
"Gerhana bulan disebabkan bayangan Bumi menutupi purnama. Kelengkungan bayangan gelap Bumi di purnama menunjukkan Bumi yang bulat," kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin kepada Okezone, Senin (29/1/2018).
Lebih rinci, Thomas Djamaluddin dalam blognya menuliskan bahwa Gerhana BulanTotal sebagai bantahan telak dongeng Bumi Datar. Menurut Thomas, bayangan gelap pada proses gerhana berbentuk melengkung yang mengindikasikan bulatnya Bumi.
"Skematik astronomis menjelaskan kejadian gerhana bulan terjadi akibat bulan memasuki bayangan bumi. Bayangan bumi terjadi karena cahaya matahari terhalang oleh Bumi," tulis Thomas.
Dia menjelaskan skema yang terjadi pada saat terjadi gerhana bulan dimana bulan mengitari bumi sedangkan bumi bersama bulan bersama-sama mengelilingi matahari. Di saat tertentu, bumi dan bulan berada dalam posisi segaris. Saat itulah fenomena gerhana terjadi.
"Bulan mengitari Bumi. Bumi bersama bulan mengitari matahari. Cahaya purnama disebabkan oleh pantulan cahaya matahari. Namun pada saat tertentu, bulan memasuki bayangan Bumi ketika matahari-Bumi-bulan dalam posisi segaris. Saat itulah terjadinya gerhana yang bisa kita amati," terangnya.
Menurutnya, para penggemar teori Bumi datar tidak bisa menjelaskan fenomena gerhana bulan secara logis. Waktu kejadian gerhana dan prosesnya tidak bisa mereka jelaskan, karena pandangan tersebut tidak menggunakan sains, walau mereka mengklaim melakukan kegiatan yang mereka sebut “penelitian”.
"Kejadian gerhana bulan adalah pukulan telak yang membantah dongeng Bumi datar," pungkasnya.
